Monday, 10 June 2019

Asal - Usul Legenda Hewan Mitologi


Mitos merupakan hal yang kental bagi kehidupan masyarakat kuno. Banyak dari mitos-mitos ini melahirkan hewan-hewan legendaris yang tampaknya tidak seperti hewan yang pernah hidup. Tapi pada akar dari mitos dan legenda tersebut, kita dapat menemukan sedikit kebenaran dari peristiwa, seseorang, atau hewan apa yang kemudian mengilhami mitologi tersebut selama ribuan tahun. Yang kemudian dapat kita lihat pada hewan-hewan dibawah ini, yang sebenarnya adalah hewan nyata namun dikarenakan keterbatasan ilmu pengetahuan dan kemampuan orang pada saat itu justru lahir menjadi sebuah mitos.


1. Cyclops


Cyclops adalah ras raksasa bermata satu dalam literatur Yunani dan Romawi kuno, khususnya Homer's Odyssey, di mana Ulysses bertempur dengan Cyclops Polyphemus yang kejam.  Teori mengenai asal-usul Cyclops adalah karena diilhami oleh penemuan fosil Deinotherium di Pulau Kreta Yunani. Itu berati cerita Cyclops diilhami dari spesies proboscidea, yang didalamnya termasuk gajah, mammoth, mastodon dan stegodon. Bagaimana bisa Deinotherium yang bermata dua menginspirasi monster bermata satu? Nah, tengkorak gajah fosil memiliki lubang tunggal yang menonjol di mana belalai dulunya menempel. Karena belalai terbuat dari otot dan tidak memfosil maka pada fosil tengkorak Deinotherium akan terbentuk seperti lubang yang menyerupai mata besar bagi orang-orang awam pada masa itu. Tentu dapat dengan mudah bagi seorang penggembala Romawi atau Yunani yang awam untuk membayangkan "monster bermata satu" ketika melihat fosil ini.

2. Roc 



Cerita tentang burung pemangsa yang mampu membawa terbang anak, orang dewasa, atau bahkan gajah dewasa yang bernama Roc adalah cerita populer tentang dongeng-dongeng dari Arab kuno. Legenda ini lalu perlahan-lahan menyebar ke Eropa Barat. Cerita Roc mungkin tercipta berdasarkan Burung Gajah Aepyornis dari Madagaskar yang dapat memiliki tinggi 3 meter lebih dengan berat lebih dari setengah ton, yang  punah pada abad ke-16. Burung Gajah dapat dengan mudah dideskripsikan kepada pedagang Arab dan juga penduduk pulau Madagascar. Fakta yang lainnya  adalah Burung Gajah tidak dapat terbang seperti cerita Roc dan merupakan pemakan buah-buahan, bukan anak manusia ataupun gajah.

3. Griffin 




Griffin  adalah binatang berkaki empat, cakar besar, paruh burung dan berbadan singa yang pertama kali muncul dalam literatur Yunani sekitar abad ke-7 SM, tak lama setelah pedagang Yunani melakukan kontak dengan pedagang Scythian di timur. Setidaknya satu folklorist mengusulkan bahwa Griffin lahir akibat penemuan fosil dinosaurus ceratopsian Protoceratops, dinosaurus seukuran babi dari Asia tengah yang mirip dengan ciri-ciri Griffin. Dengan paruh seperti burung dan bentuk kepala. Para pengembara Scythia banyak menemukan fosil-fosil Protoceratops selama perjalanan mereka melintasi Mongolia, dimana banyak fosil Protoceratops banyak dtemukan dan tidak memiliki pengetahuan tentang kehidupan selama Era Mesozoikum, sehingga bisa dengan mudah membayangkan fosil-fosil tersebut merupakan sisa-sia dari makhluk seperti Griffin.


4. Unicorn 


Ketika membahas asal-usul mitos Unicorn, terdapat dua versi unicorn, yaitu Unicorn Eropa  yang tampaknya telah terinspirasi oleh Paus Narwhals bertanduk panjang  dan Unicorn Asia, yang asal-usulnya terselubung dalam prasejarah. Unicorn Asia mungkin diilhami dari Elasmotherium, nenek moyang badak bercula panjang yang berkeliaran di dataran Eurasia hingga 10.000 tahun yang lalu, tak lama setelah Zaman Es terakhir.

Sunday, 2 June 2019

Elang Haast's, Burung Pemangsa Moa Raksasa


Elang Haast’s adalah spesies elang yang telah punah yang pernah hidup di Pulau Selatan Selandia Baru. Spesies ini adalah elang terbesar yang pernah ditemukan. Ukurannya yang besar dijelaskan sebagai respons evolusioner terhadap ukuran mangsanya, burung Moa yang bisa berbobot hingga 230 kg. Elang Haast punah sekitar tahun 1400 AD, setelah moa diburu hingga punah oleh suku Maori pertama.

Dengan lebar sayap hingga 3 meter, dan berat 15 kilogram, Elang Haast’s adalah elang terbesar yang pernah ada di dunia. Sayapnya relatif pendek dan kakinya lebih kuat daripada elang lainnya. Ukuran dan kekuatan kaki dan cakar menunjukkan bahwa ia adalah predator yang efektif dan aktif, mampu membunuh mangsa yang sangat besar.

Elang Haast’s bukan burung yang beradaptasi untuk perburuan  jarak jauh. Sayap yang relatif pendek untuk elang seukurannya dibandingkan burung elang lainnya merupakan indikasi yang jelas bahwa Elang Haast beradaptasi untuk terbang di antara pohon-pohon dan lokasi lain di mana tidak ada banyak ruang untuk membuka sayap. Secara proporsional, ekornya cenderung lebar untuk menutupi area permukaan yang lebih besar  yang akan membantu menciptakan daya angkat tanpa perlu membutuhkan sayap yang lebih lebar. Ekor yang besar juga memungkinkan ia untuk terbang dengan kecepatan rendah yang stabil dan lebih bermanuver serta memungkinkan Elang Haast's untuk memiliki kemampuan luar biasa dalam belokan tajam  saat terbang di antara pepohonan.

Elang Haast’s juga dianggap memiliki rahang yang lebih besar daripada elang modern, serta memiliki beberapa cakar panjang di kakinya. Cakar Elang Haast's  memiliki kemiripan bentuk dengan Harpy Elang (Harpia harpyja). Cakar-cakar ini panjangnya antara 4,9 cm hingga 6 cm untuk jari kaki depan sedangkan cakar hallux (jari kaki belakang yang berlawanan dengan yang lain) mencapai 10,5 cm, cakar inilah yang akan menjadi senjata pembunuh utama.


Harpagornis moorei skull.jpg



Elang Haast’s beradaptasi untuk berburu dan membunuh mangsa besar.  Satu-satunya mangsa besar yang sesuai di Selandia Baru untuk pemangsa sebesar itu adalah burung Moa. Moa adalah burung besar yang tidak dapat terbang yang diketahui oleh beberapa genera, yang terbesar di antaranya dari genus Dinornis yang dapat tumbuh hingga sekitar 3,6 meter tingginya dengan berat 230 kg. Burung-burung ini mendiami hutan yang menutupi Selandia Baru selama masa Pleistosen dan Holosen.

Kepunahan burung Elang Haast's relatif baru. Bukti menunjukkan bahwa elang raksasa ini ada ketika Suku Maori pertama kali tiba di Selandia Baru sekitar 800 tahun yang lalu, dan laporan menunjukkan bahwa elang itu "mungkin" masih ada ketika orang Eropa tiba di awal 1800-an. Legenda Maori, yaitu Pouakai tidak diragukan lagi merujuk pada sisa-sisa tulang belulang dari Elang Haast yang telah ditemukan di dalam situs-situs yang disakralkan oleh Suku Maori.

Karena itu tidak bisa beradaptasi dengan perubahan, seperti predator besar lainnya, kebutuhan akan makanan Elang Haast’s yang berubah dengan menghilangnya Burung Moa memaksa mereka berburu di daerah yang sangat luas. Ini menyebabkan kepadatan populasi yang. Seperti burung pemangsa besar lainnya, mungkin Elang Haast’s juga memiliki tingkat reproduksi yang sangat rendah. Ini membuatnya sangat rentan terhadap perubahan dramatis yang diakibatkan oleh kedatangan manusia, seperti pembukaan hutan yang tidak hanya mengurangi habitat yang tersedia untuk Elang Haast’s tetapi juga secara signifikan mengurangi jumlah mangsa yang tersedia. Selain perburuan oleh Maori yang menyebabkan kepunahan Moa, Suku Maori kemungkinan telah mencoba membunuh elang di berbagai kesempatan, mungkin untuk melindungi diri mereka dari elang berukuran 3 meter yang mereka anggap berbahaya untuk mereka. Jumlah elang Haast segera turun drastis dan akhirnya punah.

Wednesday, 22 May 2019

Skala Waktu Geologi (GTS) Bumi


Skala waktu geologis (GTS) adalah sistem penanggalan kronologis yang menghubungkan strata geologi dengan waktu dan digunakan oleh ahli geologi, ahli paleontologi, dan ilmuwan lainnya untuk menggambarkan waktu dan hubungan peristiwa yang telah terjadi selama sejarah Bumi. Bukti-bukti dari penanggalan radiometri menunjukkan bahwa Bumi telah berusia 4,54 miliar tahun.Waktu geologi bumi disusun menjadi beberapa urutan peristiwa yang terjadi pada tiap periode. 

Geokronologi dari yang terbesar ke yang terkecil :
1.     Supereon
2.     Eon
3.     Era
4.     Periode
5.     Epoch
6.     Age
7.     Chronzone

A.          Pre-Cambrian/Cryptozoic Supereon (4,6 miliar – 541 juta tahun)

1)    Hadean Eon (4,6 – 4 miliar tahun yang lalu)
a.     Paleohadean Era ( 4,6 – 4,3 miliar tahun yang lalu)
b.     Mesohadean Era ( 4,3 – 4,1 miliar tahun yang lalu)
c.      Neohadean Era (4,1-3,9 miliar tahun yang lalu)
2)    Archean Eon (4 – 2,5 miliar tahun yang lalu)
a.     Eoarchean Era (4 - 3,6 miliar tahun yang lalu)
b.     Paleoarchean Era (3,6-3,2 miliar tahun yang lalu)
c.      Mesoarchean Era (3,2-2,8 miliar tahun yang lalu)
d.     Neoarchean Era (2,8-2,5 miliar tahun yang lalu)
3)    Proterozoic Eon atau Proterozoikum (2,5 miliar tahun – 541 juta tahun yang lalu)
a.     Paleoproterozoic Era (2,5-1,6 miliar tahun yang lalu)
1.  Periode Siderian (2,5 – 2,3 miliar tahun yang lalu)
2.  Periode Rhyacian (2,3-2,05 miliar tahun yang lalu)
3.  Periode Orosirian (2,05 -1,8 milliar tahun yang lalu)
4.  Periode Statherian (1,8 – 1,6 miliar tahun yang lalu)
b.     Mesoproterozoic Era (1,6-1 miliar tahun yang lalu)
1.  Periode Calymmian (1,6-1,4 miliar tahun yang lalu)
2.  Periode Ectasian (1,4-1,2 miliar tahun yang lalu)
3.  Periode Stenian (1,2 – 1 miliar tahun yang lalu)
c.      Neoproterozoic Era (satu miliar – 541 juta tahun yang lalu)
1.  Periode Tonian (satu miliar – 720 juta tahun yang lalu)
2.  Periode Cryogenian (720-635 juta tahun yang lalu)
3.  Periode Ediacaran  (635-541 juta tahun yang lalu)
4)    Phanerozoic Eon atau Fanerozoikum (541 – saat ini)
a.     Paleozoic Era atau Paleozoikum (541-251 juta tahun yang lalu)
1.  Periode Cambrian (541-485 juta tahun yang lalu)
2.  Periode Ordovician (485-443 juta tahun yang lalu)
3.  Periode Silurian (443-419 juta tahun yang lalu)
4.  Periode Devonian (419-360 juta tahun yang lalu)
5.  Periode Karboniferous (360-298 juta tahun yang lalu)
6.  Periode Permian (298-251 juta tahun yang lalu)
b.     Mesozoic Era atau Mesozoikum (251-66 juta tahun yang lalu)
1.  Periode Triassic (251-201 juta tahun yang lalu)
a)     Early Triassic Epoch (251-247 juta tahun yang lalu)
b)    Middle Triassic Epoch (247-237 juta tahun yang lalu)
c)     Late Triassic Epoch (237-201 juta tahun yang lalu)
2.  Periode Jurassic (201-145 juta tahun yang lalu)
a)     Early Jurassic Epoch (201-174 juta tahun yang lalu)
b)    Middle Jurassic Epoch (174-163 juta tahun yang lalu)
c)     Late Jurassic Epoch (163-145 juta tahun yang lalu)
3.  Periode Cretaceous (145-66 juta tahun yang lalu)
a)     Early Cretaceous Epoch (145-100 juta tahun yang lalu)
b)    Late Cretaceous Epoch (100-66 juta tahun yang lalu)
c.      Cenozoic Era atau Neozoikum (66 juta tahun- saat ini)
1.  Periode Paleogene (66-23 juta tahun yang lalu)
a)     Paleocene Epoch (66-56 juta tahun yang lalu)
b)    Eocene Epoch (56-34 juta tahun yang lalu)
c)     Oligocene Epoch (34-23 juta tahun yang lalu)
2.  Periode Neogene (23-2,5 juta tahun yang lalu)
a)     Miocene Epoch (23-5,3 juta tahun yang lalu)
b)    Pliocene Epoch (5,3-2,5 juta tahun yang lalu)
3.  Periode Quaternary (2,5 sampai saat ini)
a)     Pleistocene Epoch (2,5 juta tahun – 11.700 tahun yang lalu)
b)    Holocene Epoch (11.700 tahun – saat ini)


~ Gigantopithecus 

Sunday, 19 May 2019

Arctodus Simus, Beruang Raksasa dari Amerika Utara


Short-faced Bear (Arctodus spp.) adalah genus beruang yang menghuni Amerika Utara selama zaman Pleistosen dari sekitar 1,8 juta tahun hingga 11.000 tahun yang lalu dan merupakan beruang Amerika Utara awal yang paling umum dan paling banyak di California. Ada dua spesies yang diketahui, yaitu Arctodus pristinus dan Arctodus simus, yang dianggap sebagai salah satu karnivora mamalia darat terbesar yang pernah ada. Dihipotesakan bahwa kepunahan mereka bertepatan dengan periode Younger Dryas dari pendinginan global yang dimulai sekitar 10.900 SM.

Short-faced Bear tergabung kedalam sekelompok beruang yang dikenal sebagai Tremarctinae, yang muncul di Amerika Utara pada awal dari periode Miosen akhir dari genus Plionarctos, sebuah genus yang dianggap sebagai leluhur Arctodus. Selama The Great America Interchange yang diikuti dengan bergabungnya Amerika Utara dan Selatan, Tremarctine termasuk kedalam daftar fauna Amerika Utara yang menyerbu Amerika Selatan, yang kemudian melahirkan Arctotherium dan Beruang Berkacamata modern (Tremarctos ornatus). Meskipun sejarah awal Arctodus Simus tidak banyak diketahui, namun Arctodus mulai menyebar luas di Amerika Utara sejak sekitar 800.000 tahun yang lalu.

Arctodus Simus pertama kali muncul pada masa Pleistosen tengah di Amerika Utara, sekitar 800.000 tahun yang lalu, dan tersebar mulai dari Alaska hingga Mississippi namun kemudian punah sekitar 11.600 tahun yang lalu. Fosilnya pertama kali ditemukan di Gua Potter Creek, Shasta County, California. Kerangka beruang berwajah pendek raksasa juga telah ditemukan di Indiana, ditemukan di selatan Rochester yang kemudian menjadi terkenal di kalangan peneliti karena itu adalah kerangka paling lengkap dari Short-faced Bear yang ditemukan di Amerika. Tulang aslinya kini berada di Field Museum, Chicago. 


Dalam sebuah studi terbaru, massa dari enam spesimen Arctodus Simus, diperkirakan memiliki berat sekitar 900 kg, dengan yang terbesar mencapai 957 kg. Tingginya dapat mencapai 2,4 hingga 3 meter jika berdiri dengan kaki belakangnya, dengan spesimen terbesar jika berdiri bahkan dapat mencapai 3,4-3,7 meter dengan jangkauan lengan hingga 4 meter keatas. Saat berjalan dengan keempat kaki, tingginya mencapai 1,5-1,8 m hingga bahu dan cukup tinggi untuk menatap langsung mata manusia. Di Riverbluff Cave, Missouri, serangkaian tanda cakar setinggi 4,5 meter telah ditemukan di sepanjang dinding gua yang mengindikasikan beruang yang membuat tanda cakaran tersebut memiliki tinggi hingga 3,6 meter.


Arctodus telah muncul berulang kali di media populer dengan nama umum 'Giant Short-Faced Bear'. Arctodus juga berkerabat dengan beruang besar lainnya seperti Arctotherium dari Amerika Selatan. Walaupun spesimen  dari Arctodus mungkin sedikit lebih besar dalam hal ukuran kerangka, Arctotherium memiliki tubuh yang lebih kekar dan besar sehingga menjadikannya beruang yang lebih besar dari Arctodus Simus.

Wednesday, 15 May 2019

Arctotherium Angustidens, Beruang Terbesar dari Amerika Selatan


Arctotherium.jpg

Arctotherium adalah genus beruang pendek dar Amerika Tengah dan Amerika Selatan yang telah punah yang hidup pada Pleistocene Epoch. Nenek moyang mereka bermigrasi dari Amerika Utara ke Amerika Selatan selama The Great American Interchange, setelah pembentukan Isthmus di Panama selama akhir Pliocene. Fosil tertua yang pernah ditemukan adalah spesies  Arctotherium Angustidens dari Buenos Aires, Argentina, berasal dari Ensenadan Epoch, 0,98-1,76 juta tahun, dari Pleistocene Awal hingga Pleistocene  Tengah. Kerabat terdekat mereka yang masih hidup di zaman modern, diketahui adalah beruang berkacamata (Tremarctos ornatus).

Arctotherium dinamai oleh Hermann Burmeister pada tahun 1879. Spesies  A. angustidens dari Buenos Aires merupakan beruang terbesar yang pernah ditemukan, memiliki berat antara 983 kg hingga  2.042 kg (2.167 dan 4.502 lb), meskipun 1.588 kg hingga 1.749 kg (3.501 hingga 3.856 lb) lebih mungkin. Tapi hal tersebut  masih membuat genus ini beruang terbesar yang pernah ditemukan dan termasuk mamalia darat karnivora terbesar yang diketahui.

Ukurannya yang besar dikaitkan dengan meningkatnya persaingan dengan karnivora lain seperti jaguar, atau Smilodon, yang mengikuti penyebaran awal beruang berwajah pendek ke Amerika Selatan. Karnivora Amerika Utara yang menyerbu Amerika Selatan, termasuk beruang berwajah pendek dan Smilodon, mungkin dengan cepat mendominasi ceruk-ceruk pemangsa yang sebelumnya ditempati oleh kelompok-kelompok asli Amerika Selatan yang asli sebagai metatherian sparassodont dan burung karnivora phorusrhacid. Arctotherium juga diketahui membuat dan  memiliki sarang.

Friday, 26 April 2019

Raksasa Dari Selatan, Argentinosaurus dan Patagotitan


Argentinosaurus by Jorge Antonio Gonzalez

Pada tahun 1987, sebuah fosil kaki dari dinosaurus raksasa ditemukan oleh seorang peternak di Argentina. Fosil ini sangat besar, awalnya ia mengiranya sebuah fosil pohon. Sebuah fosil tulang belakang setinggi 2 meter juga ditemukan. Fosil-fosil ini merupakan sisa-sisanya dari salah satu dinosaurus terbesar yang pernah berjalan di muka bumi, Argentinosaurus. Dinosaurus ini diyakini telah berjalan di Bumi selama periode Cretaceous Awal atau sekitar 92-100 juta tahun yang lalu. Belum banyak fosil Argentinosaurus yang berhasil digali. Hanya serangkaian ruas tulang berupa 6 dari tulang belakang, 5 dari daerah pinggul,  tulang rusuk sisi kanan daerah pinggul, bagian tulang rusuk dari panggul, dan  tulang kaki betis kanan. Salah satu ruas tulang ini setinggi 1,59 meter, dan  tulang betis sekitar 1,55 meter. Proporsi tulang dan perbandingan dengan dinosaurus sauropoda lainnya memungkinkan ahli paleontologi memperkirakan ukuran Argentinosaurus. 

Dilihat dari ukuran tulang-tulangnya para ahli memperkirakan ukuran dewasa Argentinosaurus memiliki panjang hingga 30 meter dan berat 75 ton, mampu mengkerdilkan hewan-hewan disekitarnya. Setelah menetas saja beratnya sudah mencapai 5 kilogram. Untuk tumbuh hingga ukuran dewasanya, bayi-bayi Argentinosaurus harus memacu porsi makannya. Dengan meneliti embrio Argentinosaurus dan melihat tulang yang dewasa, para ahli dapat mengetahui tingkat pertumbuhan Argentinosaurus. Hasilnya cukup mencengangkan. Dalam kurun waktu 40 tahun mereka dapat tumbuh dari hanya 5 kilogram menjadi 75.000 kilogram, ini berarti mereka tumbuh seberat 40 kilogram tiap harinya. Penelitian lain juga menunjukan bahwa Argentinosaurus terus tumbuh sepanjang hidupnya

Argentinosaurus juga diduga hidup secara berkelompok yang meliputi para dewasa dan remaja. Saat masa remaja inilah, Argentinosaurus berada pada masa paling rentannya. Argentinosaurus dewasa terlalu besar untuk bisa dimangsa oleh predator sehingga mereka tidak memiliki musuh alami. Para remajalah yang rentan terhadap bahaya pemangsa. Itulah sebabnya Argentinosaurus berpergian dalam kelompok, dimana yang dewasa dapat melindungi yang lebih muda. Banyak pemangsa besar dari amerika selatan yang hidup 100 juta tahun yang lalu seperti Mapusaurus sepanjang 10 meter dan Giganotosaurus yang berukuran 13 meter dan berat 10 ton, lebih besar dari Tyrannosaurus rex.  Kedua pemangsa ini dapat dengan mudah membunuh dan memangsa argentinosaurus muda.

Argentinosaurus berukuran raksasa. Saat dewasa ia dapat berbobot 75 ton. Para ilmuwan memperkirakan bahwa dari Argentinosaurus seberat 75 ton, ia terdiri dari 11 ton tulang, 3,5 ton darah, 4 ton kulit, 15 ton lemak dan 39 ton daging, cukup untuk memberi makan hewan lain selama beberapa hari. Karena ukurannya, Argentinosaurus dewasa tidak memiliki pemangsa alami. Dinosaurus pemangsa besar seperti Mapusaurus dan Giganotosaurus yang hidup berdampingan dengan mereka, tidak dapat menjatuhkan Argentinosaurus dewasa, baik sendirian maupun secara berkelompok. Karena itulah bangkai Argentinosaurus tidak akan terbuang percuma. Tumpukan daging Argentinosaurus dapat memikat banyak pemangsa dari beragam jenis, bahkan hingga yang jaraknya bermil-mil jauhnya.

FMNH Patagotitan.jpg

Selama lebih dari 20 tahun, Argentinosaurus memegang gelar sebagai dinosaurus terbesar yang pernah hidup, namun pada tahun 2008 penemuan lain menunjukan bahwa ia bukanlah yang terbesar. Ditemukan di Patagonia, Argentina, di negara yang sama dimana Argentinosaurus ditemukan, fosil dinosaurus raksasa yang baru ini menyaingi ukuran dari Argentinosaurus. Pada tahun 2008, seorang petani bernama Aurelio Hernández, menemukan tulang paha bawah dari dinosaurus ini di gurun dekat La Flecha, sekitar 250 km barat Trelew, Patagonia. Ketika itu ia sedang bekerja di lahan pertanian ketika melihat tulang fosil yang menonjol keluar dari batu. Sadar bahwa Argentina, dan khususnya Patagonia, sebagai tanah yang kaya akan fosil dinosaurus, ia pun pertanian mengundang ahli paleontologi setempat untuk memeriksanya. Butuh waktu dua minggu bagi tim mereka untuk menggali apa yang menjadi tulang paha terbesar yang pernah ditemukan yang memiliki  panjang 2,4 meter, dari ujung ke ujung. Itu jelas milik anggota Sauropoda raksasa berkaki empat berleher panjang seperti Diplodocus atau Brachiosaurus. Tetapi tidak ada Sauropoda yang diketahui memiliki tulang yang dapat membandingkan ukurannya, mengisyaratkan bahwa ini adalah penemuan spesies titan yang baru. Antara tahun 2013 dan 2015 penggalian yang dilakukan oleh 7 paleontologis berhasil menemukan 130 tulang yang berasal dari 6 individu yang berbeda, menjadikannya salah satu fosil titanosaurus terlengkap yang pernah ditemukan. Menyandang nama Patagotitan berdasarkan tempat fosilnya ditemukan pertamakali, Patagotitan dapat tumbuh hingga sepanjang 37 meter dan berat 77 ton, lebih besar dari Argentinosaurus. Ia hidup di Argentina pada Masa Cretaceous, 101 juta tahun yang lalu. Ukuran Patagotitan termasuk yang paling akurat diantara dinosaurus Sauropoda lainnya, berkat jumlah dan kelengkapan fosil yang ditemukan. Patagotitan tercatat sebagai dinosaurus terbesar yang pernah ditemukan dan diukur dengan akurat, hanya beberapa dinosaurus Sauropoda lain yang dapat menyaingi ukuran besarnya, antara lain Argentinosaurus, Puertosaurus dan Alamosaurus.  Cetakan dari fosil Patagotitan dapat dilihat di The American Museum of Natural History. 

Tulang paha Patagotitan 

Tulang belakang

Diplodocus, Raksasa Yang Lembut

Gambar mungkin berisi: luar ruangan dan alam

Selama 160 juta tahun masa kekuasaan Dinosaurus di muka bumi, mereka muncul dalam berbagai ukuran. Dari Velociraptor sebesar burung kalkun, hingga dinosaurus pemakan tumbuhan raksasa sepanjang 30 meter seperti Diplodocus dan Argentinosaurus. Kebanyakan dinosaurus raksasa ini tergabung kedalam suatu kelompok dinosaurus yang disebut  Sauropoda. Sauropoda adalah binatang darat terbesar yang pernah berjalan di muka bumi. Dalam kurun waktu seratus juta tahun evolusi, Sauropoda yang pertama kali muncul pada Masa Triassic, telah berkembang menjadi beragam jenis dan ukuran serta dapat ditemukan di semua benua, bahkan Antartika. Nama Sauropoda memiliki arti “Kaki Kadal” dalam bahasa Yunani Kuno. Ciri khas Sauropoda adalah berleher panjang, kepala yang kecil, ekor panjang dan empat kaki besar yang seperti pilar bangunan, mirip dengan kaki gajah.

Pada Masa Jurassic, Sauropoda berada pada masa jayanya. Banyak spesies yang berkembang menjadi lebih besar dan lebih beragam disbanding Masa Triassic. Salah satu diantaranya adalah Diplodocus yang hidup 155 hingga 145 juta tahun yang lalu. Raksasa Jurassic ini adalah salah satu dinosaurus terpanjang yang pernah hidup. Ia dapat tumbuh hingga 27 meter. Panjang lehernya mencapai 8 meter sedangkan ekornya 14 meter. Ekornya panjang seperti cambuk yang dapat digunakan untuk mempertahankan dirinya dari predator. Kepalanya kecil hanya sekitar 60 centimeter saja panjangnya dengan dua lubang hidung yang terletak di puncak kepalanya. Namun meski sangat panjang, Diplodocus hanya berbobot 10 hingga 16 ton saja. Diplodocus pertama kali ditemukan pada tahun 1877, oleh dua orang paleontolog, Earl Douglass dan Samuel W. Williston.  Spesimen yang mereka temukan kemudian disimpan di The Carnegie Museum. Satu tahun kemudian, Spesimen yang ditemukan oleh Earl Douglass dan Samuel W. Williston diberi nama Diplodocus oleh Othniet C. Marsh. Nama Diplodocus berarti “Kadal Ganda”. Dengan adanya penemuan ini, The Museum of Natural History tidak mau ketinggalan untuk melakukan pencarian fosil Diplodocus lainnya. Mereka melakukan penggalian fosil Diplodocus di Wyoming, AS. Pada tahun 1907 mereka memamerkan dua koleksi fosil mereka di Seckenberg, Museum Frankfurt. Semenjak itu lebih banyak lagi fosil-fosil Diplodocus yang ditemukan di Colorado, Montana dan Utah.

Gambar mungkin berisi: luar ruangan

Diplodocus hidup berkelompok. Kelompok ini sering berpindah-pindah untuk mencari makanan dan air ketika semakin sulit untuk dicari. Tiap anggota kelompok berkomunikasi menggunakan lambaian ujung ekornya yang lentur. Lambaian-lambaian ini disentuhkan ke badan temannya ketika sedang makan atau minum untuk memastikan bahwa mereka selalu bersama. Rombongan dinosaurus ini juga diikuti oleh ribuan serangga-serangga kecil yang hidup dengan menumpang di punggung Diplodocus. Namun hal ini tidak mengganggu mereka karena ukuran tubuh mereka yang besar tampak tidak terganggu dengan kehadiran serangga-serangga kecil.

Salah satu dinosaurus Sauropoda terkenal lainnya yang hidup pada zaman yang sama dengan Diplodocus adalah Brachiosaurus. Brachiosaurus pertamakali ditemukan oleh Elmer S. Riggs pada tahun 1903 di Colorado. Brachiosaurus memiliki postur tubuh yang berbeda dari Diplodocus. Kaki depan Brachiosaurus lebih panjang daripada kaki belakangnya, membuat postur tubuhnya lebih mirip jerapah. Dari situ juga ia mendapat namanya, Brachiosaurus, berarti “Kadal Bertangan”. Brachiosaurus memiliki panjang 26 meter dan berat hingga 56 ton, lebih besar dari Diplodocus. Selain lebih besar dan memiliki postur yang berbeda dari Diplodocus, cara makan Brachiosaurus juga berbeda. Jika Diplodocus dapat memakan tumbuhan di segala ketinggian, maka Brachiosaurus hanya makan dedauanan di pucuk-pucuk pohon saja. Biasanya pada ketinggian 5 meter. Ia dapat melahap hingga 120 kilogram tumbuhan setiap harinya. Mungkin 120 kilogram terlihat sedikit untuk sauropoda seberat 56 ton, namun penelitian membuktikan bahwa 240 kilogram tumbuhan cukup untuk memenuhi kebutuhan sauropoda seberat 70 ton, jadi 120 kilogram per hari cukup bagi brachiosaurus seberat 56 ton. Ini tidak menutupi kemungkinan brachiosaurus dapat makan lebih banyak daripada yang diduga oleh para ilmuwan. 

Thursday, 25 April 2019

Pangea dan Pergeseran Benua


Pangea atau Pangaea adalah super benua yang ada selama era akhir Paleozoikum dan awal Mesozoikum, terbentuk sekitar 300 juta tahun yang lalu dan mulai retak sekitar 200 juta tahun yang lalu, sebelum komponen benua dipisahkan menjadi konfigurasi mereka saat ini. Pangea dikelilingi oleh lautan global yang bernama Tethys. 
Nama Pangea berasal dari Yunani Kuno, Pan yang berarti  "seluruh" dan Gaia yang berarti "bumi".  Nama itu diciptakan pada simposium 1927 dibahas Alfred Wegener, ia menduga bahwa semua benua pada satu waktu pernah membentuk super benua tunggal yang ia sebut "Urkontinent", sebelum kemudian pecah dan menjadi beberapa benua saat ini.
Hipotesis ini disebut dengan Pergeseran benua (Continental Drift), merupakan gagasan yang dituangkan Alfred L. Wegener pada hipotesisnya dalam buku berjudul The Origin of Continent and Oceans (1912). Isinya, benua tersusun dari batuan sial yang terapung pada batuan sima yang lebih besar berat jenisnya. Pergerakan benua itu menuju khatulistiwa dan juga ke arah barat.
Hipotesis utamanya adalah di bumi pernah ada satu benua raksasa yang disebut Pangea (artinya "semua daratan") yang dikelilingi oleh Tethys atau Panthalassa ("semua lautan"). Selanjutnya, 200 juta tahun yang lalu Pangea pecah menjadi benua-benua yang lebih kecil yang kemudian bergerak menuju ke tempatnya seperti yang dijumpai saat ini.


Beberapa ilmuwan dapat menerima konsep ini namun sebagian besar lainnya tidak dapat membayangkan bagaimana satu massa benua yang besar dapat mengapung di atas bumi yang padat dan mengapa ini terjadi. Pemahaman para ilmuwan pengkritik adalah bahwa gaya yang bekerja pada bumi adalah gaya vertikal. Tidaklah mungkin gaya vertikal ini mampu menyebabkan benua yang besar tersebut pecah. Pada masa itu belum dijumpai bukti-bukti yang meyakinkan. Wegener mengumpulkan bukti lainnya berupa kesamaan garis pantai, persamaaan fosil, struktur dan batuan. Contoh beberapa buktinya antara lain : sebagian belahan bumi selatan tertutup es(Afrika Selatan dan Selandia Baru), kesamaan struktur geologi batuan di Eropa Barat sama dengan yang terdapat di Amerika Utara, kesamaan bentuk pantai timur Amerika Selatan dengan pantai barat benua Afrika dan Greenland yang semakin mendekat ke Amerika Utara. Namun, tetap saja usaha Wegener sia-sia karena Wegener tidak mampu menjelaskan dan meyakinkan para ahli bahwa gaya utama yang bekerja adalah gaya lateral bukan gaya vertikal. 
Kerak bumi atau lapisan bumi bagian atas, pada dasarnya terdiri atas kerak samudera dan kerak benua. Kedua kerak ini bukanlah sesuatu yang kaku dan diam, tetapi terus bergerak aktif mengalami pergeseran hingga saat ini. Sedikit demi sedikit pangea mengalami retakan-retakan dan pecah. Sekitar beratus juta tahun yang lalu, benua raksasa tersebut pecah menjadi dua, iaitu pecahan benua di sebelah utara dinamakan Laurasia dan di bagian selatan dinamakan Gondwana. Baik Laurasia maupun Gondwana kemudian terpecah-pecah lagi menjadi daratan yang lebih kecil dan bergerak secara tidak beraturan dengan kecepatan gerak  antara 1 – 10 cm pertahun. Benua Laurasia terdapat di belahan Bumi bagian utara yang terdiri dari Benua Amerika Utara, Benua Eropa dan Benua Asia, sedangkan Benua Gondwana terdapat di belahan Bumi bagian selatan yang sekarang terdiri dari Benua Australia, Benua Antartika, Benua Afrika, sub-benua India dan Benua Amerika Selatan.
Pangea bukanlah super-kontinen pertama dan terakhir di bumi ini. Ia pun menjadi saksi awal mula kekuasaan dinosaurus di bumi ini. Meskipun kita tidak bisa menyaksikan pembentukan dan perpecahan benua Pangea, kita masih bisa menjadi saksi pergeseran benua karena daratan yang kita pijak saat ini bergeser beberapa cm setiap tahunnya. Tentunya membutuhkan waktu beratus bahkan ribuan tahun untuk bisa melihat perpindahan daratan yang signifikan.



Wednesday, 24 April 2019

Trilobites, Penguasa Masa Kambrium


Trilobit dikatakan hidup sejak 570 juta tahun yang lalu, dan ia dianggap sebagai salah satu hewan khas untuk masa Kambrium, zaman Paleozoikum. Trilobit adalah jenis binatang arthropoda, dengan cangkang yang keras dan bersegmen, yang “hidup di lautan bumi purba.” Nama trilobit atau trilobita atau trilobite berasal dari kata ‘tiga lobus’ yang mengacu pada deskripsi tubuh hewan ini. Semua trilobite memiliki tiga lobus vertikal: lobus pleura kiri, lobus pleura kanan, dan lobus aksial.




Trilobit akan menggulung tubuhnya menjadi bola, untuk melindungi bagian bawah tubuh yang lemah dari serangan predator. Makanan makhluk ini bervariasi, tergantung pada spesiesnya. Sementara sebagian menjadi parasit, sebagian yang lain menjadi predator. Pada saat trilobit pertama kali muncul dalam catatan fosil, Mereka sudah sangat beranekaragam dan tersebar diberbagi wilayah geografis. Karena sangat variatif dan termasuk eksoskleton yang mudah memfosil, trilobit meninggalkan banyak fosil. Terdapat jutaan fosil trilobit saat ini akibat fakta bahwa trilobite pernah hidup di semua lautan di dunia. Fosil trilobite termasuk fosil yang paling terawat dan banyak dicari oleh penggemar di seluruh dunia karena penampilannya yang tidak biasa dan menarik.


 Walliserops trifurcatus

 Olenoides superbus

 Cheirurus

Majungasaurus, Kanibal dari Madagaskar


Majungasaurus ("kadal Mahajanga") adalah genus dinosaurus abelisaurid yang hidup di Madagaskar dari 70 sampai 66 juta tahun yang lalu, pada akhir Zaman Cretaceous. Genus ini terdiri dari satu spesies, yaitu Majungasaurus crenatissimus. Dinosaurus ini sempat disebut Majungatholus, sebuah nama yang sekarang dianggap sebagai sinonim junior Majungasaurus. Seperti abelisaurid lainnya, Majungasaurus adalah pemangsa bipedal dengan moncong pendek. Meski tangannya tidak diketahui secara pasti, mereka sangat pendek, sementara anggota badan belakangnya lebih panjang dan sangat gempal. Hal ini dapat dibedakan dari abelisaurid lain oleh tengkoraknya yang lebih lebar, tekstur yang sangat kasar, tulang yang menebal di atas moncongnya, dan tanduk bulat tunggal di atap tengkoraknya, yang pada awalnya dikira adalah dari kubah pachycephalosaurus. Majungasaurus juga memiliki lebih banyak gigi di rahang atas dan bawah dibanding abelisaurid lainnya. Diketahui dari beberapa tengkorak yang terawat baik dan bahan kerangka melimpah, Majungasaurus baru-baru ini menjadi salah satu dinosaurus theropoda yang paling banyak dipelajari dari Belahan Bumi Selatan. Tampaknya ia memiliki hubungan yang lebih dekat dengan abelisaurida dari India daripada Amerika Selatan atau benua Afrika, sebuah fakta yang memiliki implikasi biogeografis yang penting. Majungasaurus adalah predator puncak di ekosistemnya, terutama yang mengincar sauropoda seperti Rapetosaurus, dan juga salah satu dari sedikit dinosaurus yang memiliki bukti langsung tentang kanibalisme.

Penemuan yang dipublikasikan pada 2007 yang ditemukan di Madagaskar mengindikasikan bahwa Majungasaurus lain berada dalam menu makanan mereka. Banyak tulang Majungasaurus ditemukan memiliki tanda gigi yang identik dengan yang ditemukan pada tulang sauropoda yang menjadi mangsa Majungasaurus. Tanda-tanda ini memiliki jarak yang sama dengan gigi pada rahang Majungasaurus, berukuran sama dengan gigi Majungasaurus, dan mengandung takikan yang lebih kecil sesuai dengan gerigi pada gigi tersebut. Karena Majungasaurus adalah satu-satunya theropoda besar yang diketahui dari daerah tersebut, penjelasan paling sederhana adalah bahwa ia memangsa dinosaurus lain dari spesiesnya sendiri.  Teori kanibalisme dari dinosaurus lain, yaitu Coelophysis Trias adalah kanibal telah dibantah baru-baru ini, meninggalkan Majungasaurus sebagai satu-satunya theropoda non-unggas dengan kecenderungan kanibalistik yang dikonfirmasi dengan bukti fisik, meskipun ada beberapa bukti bahwa kanibalisme mungkin telah terjadi pada spesies lain juga. 


Tidak diketahui apakah Majungasaurus secara aktif memburu jenisnya sendiri atau hanya memakan bangkainya. Namun, beberapa peneliti telah mencatat bahwa monitor Komodo modern kadang-kadang saling membunuh ketika bersaing untuk mendapatkan bangkai. Kadal kemudian akan melanjutkan untuk mengkanibalkan sisa-sisa saingan mereka, yang mungkin mirip dengan perilaku serupa di Majungasaurus dan theropoda lainnya.

Majungasaurus adalah theropoda berukuran sedang yang biasanya berukuran 6-7 meter (19,7-23,0 kaki) panjangnya, termasuk ekornya. Sisa-sisa fragmen dari individu yang lebih besar menunjukkan bahwa beberapa individu dewasa mencapai panjang lebih dari 8 meter (26,2 kaki). Sampson dan Witmer memperkirakan berat rata-rata untuk Majungasaurus dewasa sebesar 1.100 kilogram. Spesimen mereka FMNH PR 2100, bukanlah yang terbesar yang ditemukan. Spesimen yang lebih besar dari Majungasaurus crenatissimus mungkin memiliki ukuran yang mirip dengan Carnotaurus, yang diperkirakan memiliki berat 1.500 kilogram.

Tengkorak Majungasaurus sangat terkenal dibandingkan dengan kebanyakan theropoda dan umumnya mirip dengan abelisaurid lainnya. Seperti tengkorak abelisaurid lainnya, panjangnya secara proporsional pendek untuk tingginya, meskipun tidak sependek Carnotaurus. Tengkorak individu besar berukuran panjang 60–70 sentimeter. Tulang Premaxilla yang tinggi (tulang rahang atas paling depan), yang membuat ujung moncongnya sangat tumpul, juga merupakan ciri khas keluarga tersebut. Namun, tengkorak Majungasaurus jauh lebih luas daripada abelisaurid lainnya. Semua abelisaurid memiliki tekstur kasar dan pahatan di wajah luar tulang tengkorak, dan tidak terkecuali Majungasaurus. Ini kemudian diwariskan pada tulang hidung Majungasaurus, yang sangat tebal dan menyatu bersama, dengan punggung tengah rendah yang berjalan di sepanjang setengah tulang yang paling dekat dengan lubang hidung. Tanduk mirip kubah juga menonjol keluar dari tulang frontal yang menyatu di atas tengkorak. Saat hidup, struktur ini akan ditutupi dengan semacam integumen, mungkin terbuat dari keratin. CT scanning tengkorak menunjukkan bahwa struktur hidung dan tanduk frontal berisi rongga sinus berongga, mungkin untuk mengurangi berat badan. Gigi adalah ciri khas abelisaurid yang memiliki mahkota pendek, meskipun Majungasaurus memiliki tujuh belas gigi di rahang atas dan rahang bawah rahang bawah, lebih banyak daripada abelisaurid lainnya kecuali Rugops.


Kerangka postkranial Majungasaurus sangat mirip dengan Carnotaurus dan Aucasaurus, satu-satunya genera abelisaurid lain yang diketahui memiliki material kerangka lengkap. Majungasaurus adalah bipedal, dengan ekor panjang untuk menyeimbangkan kepala dan dada dengan menempatkan pusat gravitasi di pinggul. Meskipun vertebra serviks (leher) memiliki banyak rongga dan pleurocoel untuk mengurangi beratnya, mereka kuat dengan situs perlekatan otot yang berlebihan dan tulang rusuk yang saling bertautan untuk kekuatan. Tendon yang melekat pada tulang rusuk serviks memberi mereka penampilan bercabang, seperti yang terlihat dalam Carnotaurus. Semua fitur ini menghasilkan leher yang sangat kuat dan berotot. Uniknya, tulang rusuk serviks Majungasaurus mengalami depresi panjang di sepanjang sisinya untuk meringankan berat badan. Humerus (tulang lengan atas) pendek dan melengkung, sangat mirip dengan Aucasaurus dan Carnotaurus. Juga seperti dinosaurus abelisaurid lainnya, Majungasaurus memiliki kaki depan yang sangat pendek dengan empat digit yang sangat berkurang, pertama kali dilaporkan hanya dengan dua jari eksternal yang sangat pendek dan tanpa cakar. Tulang tangan dan jari Majungasaurus, seperti majungasaurine lainnya, tidak memiliki lubang dan alur yang khas di mana cakar dan tendon biasanya menempel, dan tulang jarinya menyatu bersama, menunjukkan bahwa tangan itu tidak dapat bergerak. Pada tahun 2012, spesimen yang lebih baik menunjukkan bahwa lengan bawah kuat, meskipun pendek, dan tangan berisi empat metatarsal dan mungkin empat jari tidak fleksibel, dengan cakar kecil pada jari kedua dan ketiga. 


Seperti abelisaurid lainnya, bagian belakangnya kekar dan pendek dibandingkan dengan panjang tubuh. Tibia (tulang kaki bagian bawah) dari Majungasaurus bahkan lebih besar daripada Carnotaurus, dengan lambang menonjol di lutut. Astragalus dan calcaneum (tulang pergelangan kaki) menyatu bersama, dan kaki memiliki tiga jari fungsional, dengan jari pertama yang lebih kecil yang tidak menyentuh tanah.

Spesimen neotipe M. crenatissimus (MNHN.MAJ 1), Muséum national d'histoire naturelle, Paris.

Type specimen of Majungatholus atopus: (MNHN.MAJ 1)